Karakteristik Dakwah Marhalah Madaniyah

25 May

A. Karakteristik Umum

  1. Rabbaniyatul masdar,

(Berarti bahwa ajaran yang didakwahkan Rasulullah Saw adalah ajaran yang bersumber dari Allah yang merupakan Rabb seluruh Alam. Bukan ajaran orang tertentu, kelompok tertentu atau bangsa tertentu. Mengapa harus, Allah yang menjadi musyarri’ atau yang memberikan ajaran yang wajib dijalankan manusia? Karena Hanya Allah yang maha hakim (bijak sana) yang maha mengetahui apa yang paling pas dan cocok buat manusia. Sebab Allahlah yang m,enciptakan manusia, maka tentunya Dialah yang paling tahu tentang seluk beluk manusia, dan paling tahu ajaran apa yang paling pas untuk manusia. Kalau manusia dibebankan untuk membuat hukum sendiri, maka jelas akan terjadi perbedaan yang berakibat pada perpecahan. Sebab siapakah manusia yang paling pantas untuk membuat hokum? Akal siapa yang akan menjadi patokan? Tidak ada yang bisa menjawab. Kalaupun suatu hukum cocok untuk suatu bangsa, belum tentu cocok bagi yang lain, dan seterusnya.

  1. Syumuluuliyatul Manhaj,

Berarti bahwa ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ini melingkupi seluruh aspek kehirupan manusia. Ada ajaran tentang perpolitikan, perekonomian, kemiliteran, pendidikan, sosial kemayarakatan, hubungan luar negeri, budaya, dan sebagainya. Dalam hal ini Islam memiliki konsep tentang itu semua.

  1. Umuumr Risalah,

Berarti bahwa ajaran Rasulullah bukanlah untuk zaman tertentu. Melainkan sepanjang masa, sejak diwahyukan sampai kepada akhir zaman.

  1. ‘Alamiyyatud Da’wah,

Berarti, dakwah Rasulullah adalah untuk seluruh bangsa dan umat. Bukan bangsa tertentu. Hal ini sering ditegaskan dalam Al-Quran seperti pada ayat: “Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil aalamiin”, juga seperti ayat “Qul Yaa ayyuhannaasu innii rasuulullahi ilaukum jamii’an.”

  1. Akhlaqiyatul Wasiilah wal Ghayah)

Berarti, segala wasilah yang digunakan untuk menegakkan dakwah ini haruslah berdasarkan pada akhlak yang tinggi. Islam tidak mengenal istilah al-ghaayah tubarriril wasiilah. Membolehkan segala cara demi mencapai tujuan. Hal ini karena tujuan dakwah islam ini pada intinya ingin membawa manusia kepada kebaikan dunia dan akhirat. Dan untuk mencapai hal itu tentunya harus menggunakan wasilah yang baik juga. Dalam hadis Rasulullah bersabda: “Inallaha thayyibun laa yaqbalu illaa thayyiban.

B. Karakteristik Khusus

Mengkaji karakteristik khusus dakwah Rasulullah pada periode madinah ini, tentunya kita perlu mengkajinya dari rentang sejarah, atau sirah dakwah beliau selama di madinah. Tetapi untuk lebih memperjelas karakteristik dakwah periode Madinah ini tentunya, kita perlu mengkomparasikannya dengan periode dakwah beliau semasa di Mekah.

Priode Mekah:

Manhaj dakwah yang diterapkan Rasulullah Saw dalam periode Mekah, saya bahasakan dengan: Revolusi damai. Karena Rasulullah lebih mengambil jalan damai dalam berinteraksi dengan kaum kafir Quraisy. Beliau tidak mengajak pengikutnya untuk berkofrontasi langsung dengan Quraisy Mekah, tetapi labih memilih untuk bersabar dan menahan diri. Hal ini karena memang kondisi pengikut beliau yang masih sedikit dan lemah, apalagi bahwa kebanyakan mereka adalah orang-orang kelas bawah, lemah dan miskin. Tetapi sebenarnya, yang menjadi alasan penting mengapa Rasulullah memilih metode revolusi damai ini, adalah tidak lain karena Allah Swt belum mengizinkan kaum muslimin untuk berperang.

Sebab, walaupun memang kebanyakan pengikut nabi adalah orang-orang lemah, hal ini tidak berarti bahwa tidak ada pemuka-pemuka Quraisy yang menjadi pengikut beliau. Coba saja kita lihat, Abu Bakr, Umar, Hamzah, ustman, (dan para as-saabiqinal awwaliin) mereka adalah orang-orang yang terpandang di Mekah, mereka adalah pemuka-pemuka Quraisy yang tersohor. Selain itu mereka bukanlah orang-orang yang pengecut untuk berperang. Siapa yang tidak mengenal Hamzah bin Abdul Muththalib yang terkenal dengan singa padang pasir. Siapa yang tidak kenal keberanian Umar bin Khaththab.

Jadi inti masalahnya bukan pada jumlah kaum muslimin yang kala itu masih sedikit dan lemah, sebab dalam sejarah kemenagan-kemenangan kaum muslimin dalam peperangan, di sebutkan bahwa selalu saja kaum muslimin lebih sedikit dari kaum kafir, baik dari segi personil pasukan atau perlengkapan senjata. Jadi, inti masalahnya adalah tidak lain karena memang belum ada izin untuk membela diri dengan mengangkat senjata. Buktinya, bahwa beberapa kali kaum muslimin meminta Rasulullah untuk melawan, tetapi Rasulullah selalu menjawab: “Kita belum diizinkan untuk itu.”

Hikmah yang mungkin kita bisa tangkap di balik tidak diizinkannya berperang ini, adalah bahwa segala bentuk cemoohan, penyiksaan dan sebagainya itu, tidak lain adalah untuk menguji keimanan kaum muslimin, bahwa inilah sunnah yang mesti dialami oleh pengikut-pengikut setia para nabi. Mereka pasti akan dicemooh, dihina, dikucilkan, disingkirkan, diusir, disiksa bahkan dibunuh. Misalnya saja (Kisah bilal bin Rabah, keluarga Ammar bin Yasir yang meregang nyawa disiksa, karena mempertahankan keimanannya dsb. Sehingga Rasulullah menjanjikan Surga kepada keluarga Yasir:  Ishbiruu Aala Yaasir, fainna mau’idukumul jannah. (bersabarlah wahai keluarga yasir, karena tempat kalian adalah surga)

Pengujian keimanan ini yang kemudian diabadikan oleh Allah dalam firmannya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Di dalam kitab Shahih Imam Bukhari disebutkan:

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الأَرَتِّ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ في ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا قَالَ: “كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُلَهُ في الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ، فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ،وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ، مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ،وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْر َحَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللَّهَ أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ”.

Dari Khabbaab bin al-Arat ia berkata: kami mengadu kepada Rasulullah Saw yang ketika itu beliau sedang berbaring di bawah naungan Ka’bah berbantalkan selimutnya. Kami mengadu kepada beliau: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memohonkan bagi kami pertolongan, tidakkah engkau berdoa kepada Allah? Beliau menjawab: “Seoarng lelaki dari umat terdahulu sebelum kamu, digali tanah untuknya kemudian setengah badannya ditanam di dalam galian itu, kemudian dibawakan kepadanya gergaji, kemudian gergaji itu ditaruh di atas kepalanya, kemudian badannya dibelah menjadi dua, semua itu tidak membuat ia bergeser dari agamanya, ada juga yang dicakar (badannya) dengan cakar besi sampai menembus daging dan tulangnya, semua itu juga tidak menggesarkannya dari keimannya. Demi Allah, sesunggunya Dia akan menyempurnakan agama ini, sehingga orang akan berjalan dengan aman dari Shan’a’ sampai Hadramaut, sedang ia tidak takut kepada siapapun selain Allah, tidak juga mengkhawatirkan serigala terhadap kambing-kambingya. Tetapi kalian adalah kaum yang terburu-buru.

Jadi, di Mekah, kaum Muslimin lebih diuji kesabarannya dalam memegang kebenaran, walaupun menghadapi berbagai tekanan baik jiwa maupun raga.

Kalau kita melihat corak dakwah Rasulullah pada periode Mekah ini melalui Al-Quran, dakwah beliau, lebih terfokus pada asas-asas keimanan/rukun iman (iman kepada Allah: Tauhidullah, iman kepada malaikat, kitab, Rasul dan nabi, hari kiamat dan qadha dan qadhar. Disamping itu, dakwah di Mekah juga lebih diprioritaskan pada peletakan dasar-dasar akhlak, penanaman nilai-nilai kebaikan dan penjauhan terhadap nilai-nilai keburukan, kisah-kisah nabi dan umat terdahulu, sebagai ibrah bagi kaum muslimin, dan ushul ibadah (pokok-pokok ibadah) seperti shalat, sedekah, haji,. Tetapi belum terlalu jauh membahas tentang rincian-rincian syariat ibadah. Karena faktor kondisi masyarakat yang belum memungkinkan untuk itu.

Dalam hadis tentang Mi’raj Rasulullah disebutkan bahwa, sebelum beliau melakukan Mi’raj (perjalanan dari masjidil aqsha ke sidratul muntaha) untuk menerima kewajiban shalat, Nabi telah melakukan shalat di masjid al-Aqsha, bahkan beliau yang mengimami shalat, dan makmumnya adalah para nabi yang lain. Juga, di dalam surat-surat makkiyah banyak sekali perintah untuk bersedakah, yang nantinya menjadi dasar kewajiban zakat. Karena ulama membagi shadaqah menjadi dua (wajib dan sunnah). Demikian sekilas tentang periode Mekah.

Periode Madinah:

Kalau di Mekah Rasulullah menerapkan revolusi damai, maka yang Rasulullah terapakan di Madinah adalah Revolusi berbasis power (kekuatan). Dalam arti, bahwa perubahan menuju masyarakat madani (masyarakat qurani), perlu disokong dan ditopang dengan kekuatan politik dan militer. Oleh sebab itu, pertama kali yang dilakukan Rasulullah ketika sampai di madinah adalah mendirikan Masjid. Dari sanalah beliau meletakkan pilar-pilar daulah Islamiayah (negara Islam), meletakkan dasar syura guna menagendakan rencana-rencana dakwah ke depan.

Setelah mendirikan masjid, beliau mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dalam satu ikatan ukhuwwah islamiyah yang kokoh. Karena tanpa pengokohan ukhwwah ini, tujuan-tujuan dakwah islamiyah tidak akan tercapai. Di dalam Al-Quran sendiri seruan-seruan tentang ukhuwwah ini banyak sekali kita temukan. Al-Quran bahkan menjadikan ikatan ukhuwwah ini sebagai sebuah kewajiban, dan menjadikan furqah (perpecahan) sebagai suatu hal yang diharamkan. Allah berfirman (wa’tashimuu bihablillaahi jamii’an walaa tatafarraquu)

Setelah beliau mempersatukan kaum muslimin dalam sebuah ikatan ukhuwwah yang kokoh, beliau kemudian segera membentuk pasukan (militer) dan langsung mengirimnya keperbatasan-perbatasan kota madinah. Jadi sebelum perang Badar, setidaknya Rasulullah telah mengutus pasukan untuk berjaga-jaga di perbatasan kota madinah. Maka kita kenal beberapa kelompok pasukan yang dutus untuk mengamankan kota madinah, sebelum terjadinya perang Badar seperti: Sariyah Saiful Bahr, Râbig, Kharrâz, Abwâ’, Safwan dan sebagainya.

Hal ini dilakukan dengan tujuan, untuk menggetarkan hati kelompok-kelompok tertentu di sekeliling madinah yang ingin memerangi kota madinah dan sekaligus menunjukkan pada musuh-musuh Islam bahwa umat Islam telah punya kekuatan, baik dalam membela diri maupun dalam menyebarkan kebenaran dan keadilan. Walaupun demikian, revolusi dengan kekuatan ini tidaklah berarti segalanya harus menggunakan kekuatan. Dalam hal menyebarkan atau mendakwahkan keyakinan atau akidah Islam, tetap saja Rasulullah tidak keluar dari manhaj qurani. Yaitu, (ud’u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati wal mau’izatil hasanah, wajaadilhum billatiii hiya ahsan). “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (ilmu), peringatan yang baik, dan dialog dengan cara yang terbaik). Kekuatan militer hanya dilakukan untuk menjaga eksistensi Islam dari segala kekuatan yang berpotensi untuk mengrong-rong atau menghalangi dakwah Islam.

Demikianlah bahwa, ciri dakwah pada periode madinah ini, adalah diizinkannya berperang, berbeda dengan periode makkah seperti yang kita sebutkan tadi. Allah berfirman:

أُذن للذين يُقاتَلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير } (الحج:39) .

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”

فعن قتادة، في قوله سبحانه: { أُذن للذين يُقاتلون بأنهم ظلموا } قال: هي أول آية أنزلت في القتال، فأذن لهم أن يقاتِلوا. وذلك أن المشركين كانوا يؤذون المؤمنين بمكة أذى شديدًا، فكان المسلمون يأتون رسول الله صلى الله عليه وسلم من بين مضروب ومشجوج يتظلمون إليه، فيقول لهم: اصبروا، فإني لم أُومَر بالقتال. فلما هاجر إلى المدينة، نزلت هذه الآية إذنًا لهم بالتهيؤ للدفاع عن أنفسهم.

Imam Qotadah meriwayatkan tentang ayat “udzina lilladina yaqatiluuna ..” beliau berkata, bahwa ayat ini turun untuk menjelankan tentang diizinkannya qitaal atau berperang. Hal ini karena orang-orang musyrik Mekah menyakiti dan menyiksa kaum muslimin yang lemah dengna siksaan yang pedih, shingga sebagian kaum muslimin mendatangi Rasulullah Saw sedang di antara mereka ada yang terluka, tetapi Rasulullah selalu menjawab, “sabarlah, karena aku belum diperintah untuk berperang.” Ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, turunlah ayat ini yang menyerukan izin bagi kaum muslimin untuk berperang membela diri mereka.”

Dengan berdirinya daulah islamiyah ini, maka eksistensi Islam semakin kokoh, iman kaum muslimin semakin kuat, pengikut-pengikut Rasulullah juga semakin banyak, orang-orang dari berbagai suku berhijrah ke Madinah untuk menyatakan keislamnnya, dan mendukung perjuangan Rasulullah Saw. Nah, pada periode Madinah inilah kemudian syariat-syariat ibadah—yang dalam periode Mekah hanya dijelaskan dalam bentuk  perintah-perintah general—dijelaskan secara detail. Kalau sebelumnya hanya diperintahkan bersedakah secara umum, maka disini dijelaskan tentang zakat, kapan wajib ditunaikan, ditentukan nishab dan haul, barang apa saja yang dikenakan zakat dan sebagainya. Pada periode ini juga disyariatkan puasa wajib bulan Ramadan dan seterusnya. Hal ini tidak lain karena kokohnya islam itu sendiri, dan kokohnya keimanan kaum muslimin. Sehingga mudah saja mereka menjalankan segala syariat yang diturunkan.

Di samping itu, pada periode madinah inilah keteguhan umat Islam membela Islam diuji. Kalau sebelumnya (periode Mekah) umat Islam diuji kesabarannya memegang islam, maka di sini mereka diuji kesabarannya membela Islam. Karena pada periode madinah inilah, jihad perang sering kali terjadi. Seperti perang Badar, Uhud, Khandaq, Hunain, dan sebagainya. Semuanya dalam rangka membela diri, menegakkan panji-panji Islam dan mendakwahkannya kepada dunia.

Nah, Relevansinya untuk zaman kita ini, kedua jenis kesabaran itu harus kita miliki. Hal ini karena cobaan yang dialami kaum muslimin zaman sekarang juga tidak kalah dahsyatnya. Di mana umat Islam benar-benar seperti apa yang diilustrasikan oleh Rasulullah, bahwa umat Islam kelak bagaikan hidangan di atas meja makan, dimana yang barat mau menerkam yang timur mau menghantam, utara mau mencakar, selatan mau menceker.
Umat Islam diserang dari segala penjuru, baik dalam bentuk perang fisik atau pemikiran, dijajah perekonomiannya, politik, militer, sosial, budaya, informasi dan sebagainya. Maka, untuk menghadapi hal ini umat Islam harus memiliki kekuatan prima dalam memegang keislamannya. Belum lagi menghadapi berbagai macam syubhat, baik dari luar Islam atau bahkan yang lebih berbahaya adalah yang dari dalam umat Islam sendiri. Mereka oleh orang-orang yang mengaku Islam tetapi justru mengebiri Islam itu sendiri. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: